Jumat, 15 April 2011

ordo marseleales


Bab I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling sederhana. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril) di sekeliling organ reproduksi, sistem transpor internal, hidup di tempat yang lembap. Akar serabut berupa rizoma, ujung akar dilindungi kaliptra. Sel-sel akar membentuk epidermis, korteks, dan silinder pusat (terdapat xilem dan fleom).
Batang tumbuhan paku tidak tampak karena terdapat di dalam tanah berupa rimpang, sangat pendek, ada juga yang dapat mencapai 5 meter seperti pada paku pohon atau paku tiang. Daun ketika masih muda melingkar dan menggulung. Beradasarkan bentuk dan ukurandan susunannya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi mikrofil dan makrofil. Mikrofil bentuk kecil atau bersisik, tidak bertangkai, tidak bertulang daun, belum memperlihatkan diferensiasi sel. Makrofil daun besar, bertangkai, bertulang daun, bercabang-cabang, sel telah terdiferensiasi. Berdasarkan fungsinya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi tropofil dan sporofil. Tropofil merupakan daun yang khusus untuk asimilasi atau fotosintesis. Sporofil berfungsi untuk menghasilkan spora.
Spora tumbuhan paku dibentuk dalam kotak spora (sporangium). Kumpulan sporangium disebut sorus. Sorus muda sering dilindungi oleh selaput yang disebut indusium. Berdasarkan macam spora yang dihasilkan tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga yaitu paku homospora (isospora), paku heterospora dan paku peralihan. Paku homospora menghasilkan satu jenis spora (ex Lycopodium/paku kawat). Paku heterospora menghasilkan dua jenis spora yang berlainan yaitu megaspora (ukuran besar) dan mikrospora (ukuran kecil) (ex Marsilea/semanggi dan Selaginella/paku rane). Paku peralihan merupakan peralihan antara homospora dan heterospora menghasilkan spora pbentuk dan ukurannya sama tetapi berbeda jenis kelamin (ex Equisetum debile/paku ekor kuda).
Tumbuhan paku bereproduksi secara aseksual (vegetatif) dengan stolon yang menghasilkan gemma (tunas). Gemma adalah anakan pada tulang daun atau kaki daun yang mengandung spora. Reproduksi seksual (generatif) melalui pembentukan sel kelamin jantan/spermatozoid (gametangium jantan/anteridium) dan sel kelamin betina/ovum (gametangium betina/arkegonium). Seperti pada lumut tumbuhan paku juga mengalami pergiliran keturunan/metagenesis. Metagenesis tersebut dibedakan antara paku homospora dan heterospora.

Tumbuhan paku dibedakan menjadi empat kelompok yaitu Psilotophyta, Lycophyta, Sphenophyta, dan Pterophyta. Psilotophyta mempunyai dua genera (ex Psilotum sp). Psilotum sp tersebar luas di daerah tropik dan subtropik, mempunyai ranting dikotom, tidak memiliki akar dan daun, pengganti akar berupa rizoma diselubungi rambut-rambut yang dikenal rizoid.
Lycophyta contohnya Lycopodium sp dan Selaginella sp. Lycopodium sp sporanya dalam sporofit daun khusus untuk reproduksi dan dapat bertahan dalam tanah selama 9 tahun, dapat menghasilkan spora tunggal yang berkembang menjadi gametofit biseksual (memiliki baik organ jantan dan betina), jenis homospora. Selaginella sp merupakan tanaman heterospora, menghasilkan dua jenis spora (megaspora/gamet betina dan mikrospora/gamet jantan).
Sphenophyta sering disebut paku ekor kuda, bersifat homospora, mempunyai akar; batang; daun sejati, batangnya keras karena dinding sel mengandung silika. Contohnya Equisetum debile (paku ekor kuda).
Pterophyta (paku sejati) umumnya tumbuh di darat pada daerah tropis dan subtropis. Daunnya besar, daun muda menggulung. Sporangium terdapat pada sporofil (daun penghasil spora). Contohnya: Adiantum cuncatum (paku suplir untuk hiasan), Marsilea crenata (semanggi untuk sayuran), Asplenium nidus (paku sarang burung), Pletycerium bifurcatum (paku tanduk rusa).
Beberapa jenis hewan dan tumbuhan ada yang mengalami proses metagenesis. Metagenesis adalah proses pergiliran hidup yaitu antara fase seksual dan aseksual. Hewan dan tumbuhan yang mengalami metagenesis akan mengalami dua fase kehidupan, yaitu fase kehidupan yang bereproduksi secara seksual dan fase kehidupan yang bereproduksi secara aseksual.
Metagenesis pada tumbuhan dapat diamati dengan jelas pada tumbuhan tak berbiji (paku dan lumut). Pada tumbuhan tersebut, pembentukan gamet jantan berlangsung di dalam antheridium dan gamet betina di dalam arkegonium. Jika gamet jantan membuahi gamet betina, maka akan terbentuk zigot.
Zigot tumbuh menjadi individu yang menghasilkan spora. Generasi ini disebut fase vegetatif (aseksual) atau sporofit. Spora yang jatuh di tempat yang sesuai akan tumbuh menjadi individu baru yang menghasilkan gamet. Karena menghasilkan gamet, maka generasi ini disebut fase generatif (seksual) atau gametofit. Demikian seterusnya terjadi pergiliran keturunan antara fase gametofit dan sporofit. Tumbuhan lumut yang sering kamu jumpai merupakan fase gametofit. Sedangkan tumbuhan paku yang kamu lihat sehari-hari merupakan fase sporofit. Pergiliran keturunan antara fase sporofit dan gametofit itulah yang disebut metagenesis.
1.2  Rumusan Masalah
Ø  Bagaimana klasifikasi, Habitat, Ciri Morflogi, Reproduksi dan Siklus Hidup Tumbuhan Paku ( ordo marsileales )
Ø  Apa saja Jenis dan Manfaat dari Tumbuhan Paku Ordo Marsileales
Ø  Bagaimana Klasifikasi, Habitat, Ciri Morfologi, Reproduksi, dan Siklus Hidup Tumbuhan Paku ( Ordo silvineales )
Ø  Apa saja Jenis dan manfaat Tumbuhan Paku Ordo silvineales
1.3  Tujuan
Ø  Untuk Mengetahui klasifikasi, Habitat, ciri Morfologi, Reproduksi, dan Siklus hidup Tumbuhan Paku ( Ordo Marsileaales )
Ø  Untuk Mengetahui Jenis dan Manfaat Tumbuhan Paku Ordo marsileas
Ø  Untuk Mengetahui klasifikasi, Habitat, ciri Morfologi, Reproduksi, dan Siklus hidup Tumbuhan Paku ( Ordo silvineales )
Ø  Untuk Mengetahui Jenis dan Manfaat Tumbuhan Paku Ordo silvineales







BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Klasifikasi, Habitat, ciri Morfologi, Reproduksi, dan Siklus hidup Tumbuhan Paku ( Ordo Marsileaales )

2.1.1        klasifikasi




Kingdom               Plantae
                 Divisi                      Reridophyta
                                 Kelas                     Filicianae
                                                 Bangsa                  Hydroptilidales
                                                                 Suku                      Marsileaceae
                                                                                 Marga                   Marsilea
                                                                                                 Jenis      Marsilea crenata

2.1 2 Ciri Morfologi
Menurut Sarwuni (2003), tumbuhan paku dibagi berdasarkan ciri morfologi dan molekular. Berdasarkan klasifikasi terbaru ini, Lycophyta (rane, paku kawat, dan isoetes) merupakan tumbuhan berpembuluh yang pertama kali terpisah dari yang lain, sedangkan paku-pakuan serta tumbuhan berbiji berada pada kelompok lain. Selanjutnya terlihat bahwa semua kormofita berspora yang tersisa tergabung dalam satu kelompok besar, yang layak dikatakan sebagai anggota Divisi tumbuhan paku (Pteridophyta). Dari hasil revisi ini juga terlihat bahwa sejumlah paku-pakuan yang dulu dianggap sebagai paku primitif (seperti Psilotum) ternyata lebih dekat berkerabat dengan paku tunjuk langit (Helminthostachys), sementara paku ekor kuda (Equisetum) sama dekatnya dengan paku sejati terhadap Marchantia.
Menurut Iqbal (2008), tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang warganya telah jelas mempunyai kormus, artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, yaitu akar, batang dan daun. Namun demikian, pada tumbuhan paku belum dihasilkan biji. Seperti warga divisi–divisi yang telah dibicarakan sebelumnya, alat perkembang–biakan tumbuhan paku yang utama adalah spora. Oleh sebab itu, sementara ahli taksonomi membagi dunia tumbuhan dalam dua kelompok saja yang diberi nama Cryptogamae dan phanerogamae. Cryptogamae (tumbuhan spora) meliputi yang sekarang kita sebut dibawah nama Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, dan Pteridophyta.
Menurut Hackel (1999), pada Pteridophyta akar tidak merupakan bagian terusan pertumbuhan dari kutub yang berhadapan dengan pucuk melainkan dari suatu bagian calon batang yang lalu membentuk akar kesamping. Karena akar tidak berkembang dari kutub akar, zigot Pteridophyta bersifat unipolar. Akar yang keluar pertama-tama tidak dominan melainkan segera disusul oleh akar-akar lain yang semuanya keluar dari batang. Pembentukan akar ini disebut homorizhi. Batang Pteridophyta bercabang-cabang menggarpu, atau jika tidak demikian maka cabang-cabang yang dikeluarkan kesamping itu tidak pernah berasal dari ketiak daun. Akar Pteridophyta telah mempunyai kaliptra, dan sel-sel kaliptranya berasal dari sel ujung juuga yang pada akar itu berbentuk tetraedik dan bersifat membelah dengan membentuk sekat-sekat yang sejuajar dengan keempat dindingnya secara berganti-ganti.

Semanggi adalah sekelompok paku air (Salviniales) dari marga Marsilea) .Morfologi tumbuhan marga ini khas, karena bentuk entalnya yang menyerupai payung yang tersusun dari empat anak daun yang berhadapan. Akibat bentuk daunnya ini, nama "semanggi" dipakai untuk beberapa jenis tumbuhan dikotil yang bersusunan daun serupa, seperti klover.Semua anggotanya heterospor: memiliki dua tipe spora yang berbeda kelamin.Daun tumbuhan ini (biasanya M. crenata) biasa dijadikan bahan makanan yang dikenal sebagai pecel semanggi, khas dari daerah Surabaya. Organ penyimpan spora (disebut sporokarp).
Marsilea crenata termasuk dalam tumbuhan paku Classis Filicinae karena sudah mempunyai akar, batang dan daun. Marsilea crenata (semanggi)  termasuk dalam Sub Classis Hydrpterydes karena merupakan tumbuhan paku air yang heterospora. Semanggi termasuk dalam Ordo Marsileales karena hidup dalm air yang dangkal dengan akar di dalam tanh. Semanggi mempunyai sorus dalam satu sporofit terdapat dalam sporakarpium yang bentuknya seperti kacang. Semanggi mempunyai batang yang merayap. Di buku-buku batang ke bawah membentuk akar, ke atas membentuk daun yang bertangkai panjang yang muncul diatas permukaan air dengan helaian daun yang berbelah. Sporakarpium keluar diatas tangkai daun.

2.1.3 Habitat
Ordo Marsileales hidup dalm air yang dangkal dengan akar di dalam tanh. Habitat Semanggi biasanya hidup di air, rawa, atau danau.

Menurut Pollunin (1994), habitatnya paku- pakuan ini adalah kebanyakan merupakan penghuni khas tempat-tempat yang keteduhan dalam hutan-hutan di daerah tropika sampai kawasan sekitar kutub utara atau pada isoetales dasar-dasar danau air tawar tumbuhan ini juga terdapat di tempat-tempat yang lebih terdadah seperti seperti lahan liar dan rawa-rawa.
M. quadrifolia ditemukan di pusat dan selatan Eropa , Caucasia, barat Siberia , Afghanistan , sw India , Cina , Jepang dan Amerika Utara . Dianggap sebagai gulma di beberapa bagian Amerika Serikat.


2.14. Reproduksi dan siklus hidup
                        Spora tumbuhan paku dibentuk dalam kotak spora (sporangium). Kumpulan sporangium disebut sorus. Sorus muda sering dilindungi oleh selaput yang disebut indusium. Berdasarkan macam spora yang dihasilkan tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga yaitu paku homospora (isospora), paku heterospora dan paku peralihan. Paku homospora menghasilkan satu jenis spora (ex Lycopodium/paku kawat). Paku heterospora menghasilkan dua jenis spora yang berlainan yaitu megaspora (ukuran besar) dan mikrospora (ukuran kecil) (ex Marsilea/semanggi dan Selaginella/paku rane). Paku peralihan merupakan peralihan antara homospora dan heterospora menghasilkan spora pbentuk dan ukurannya sama tetapi berbeda jenis kelamin (ex Equisetum debile/paku ekor kuda).
Tumbuhan paku bereproduksi secara aseksual (vegetatif) dengan stolon yang menghasilkan gemma (tunas). Gemma adalah anakan pada tulang daun atau kaki daun yang mengandung spora. Reproduksi seksual (generatif) melalui pembentukan sel kelamin jantan/spermatozoid (gametangium jantan/anteridium) dan sel kelamin betina/ovum (gametangium betina/arkegonium). Seperti pada lumut tumbuhan paku juga mengalami pergiliran keturunan/metagenesis. Metagenesis tersebut dibedakan antara paku homospora dan heterospora.
p
     gmbr . ( siklus hidup tumbuhan paku ordo marsileales yang heterospora).
2.2  Jenis dan Manfaat dari Tumbuhan Paku Ordo Marsileales
Marsileales termasuk tumbuhan paku sejati juga disebut dengan tumbuhan paku benar. Tumbuhan paku ini merupakan kelompok tumbuhan paku yang sering kita jumpai karena sering dijadikan tanaman hias yang sangat menarik.
Oordo marsileales ada  sekitar 35 spesies yang telah ditemukan, di antaranya
• M. crenata
• M. quadrifolia
• M. drummondii
• M. Macrocarpa

Daun dan batang Marsilea crenata berkhasiat untuk peluruh air seni.
Untuk peluruh air seni dipakai ± 25 gram daun dan batang segar Mar-silea crenata, dicuci dan direbus dengan 3 gelas air sampai aimya tinggal setengah, dinginkan dan disaring. Hasil saringan diminum dua kali sehari .

Marsileales drummondii dimanfaatkan oleh penduduk asli Australia (aborigin) sebagai bahan makanan. Semanggi M. crenata diketahui mengandung fitoestrogen (estrogen tumbuhan) yang berpotensi mencegah osteoporesis. Tumbuhan ini juga berpotensi sebagai tumbuhan bioremediasi, karena mampu menyerap logam berat Cd dan Pb. Kemampuan ini perlu diwaspadai dalam penggunaan daun semanggi sebagai bahan makanan, terutama bila daunnya diambil dari lahan tercemar logam berat.

















BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
                        Ordo Marsileales termasuk dalam tumbuhan paku Classis Filicinae karena sudah mempunyai akar, batang dan daun. Marsilea crenata (semanggi)  termasuk dalam Sub Classis Hydrpterydes karena merupakan tumbuhan paku air yang heterospora. Semanggi termasuk dalam Ordo Marsileales karena hidup dalm air yang dangkal dengan akar di dalam tanh. Semanggi mempunyai sorus dalam satu sporofit terdapat dalam sporakarpium yang bentuknya seperti kacang. Semanggi mempunyai batang yang merayap. Di buku-buku batang ke bawah membentuk akar, ke atas membentuk daun yang bertangkai panjang yang muncul diatas permukaan air dengan helaian daun yang berbelah. Sporakarpium keluar diatas tangkai daun. Habitat Semanggi biasanya hidup di air, rawa, atau danau. Ordo Marsileales berreproduksi secara seksual dan asek sual dengan menggunakan spora pada tahap vegetatif, dan dilanjutkan dengan tahap gametofit ( generatif ) yaitu pembentukan gamet jantan ( arkegonium ) dan gamet betina ( arkegonium ). Siklus hidupnya adalah heterospora, karena memiliki jenis spora yang berbeda yaitu mikrospora dan megaspora.






DAFTAR PUSTAKA
Hackle. 1999. Tumbuhan Paku. Bandung: CV. Duta Permana.
Sarwuni. 2003. Sistematika Tumbuhan Cryptogamae. Malang: CV. Aditama.
Iqbal, Ali. 2008. Sistematika Tumbuhan Cryptogamae. Jakarta: Erlangga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar