Jumat, 15 April 2011

Konsep Kesetaraan Jender dalam Penelitian Bidang Sosial-Ekonomi Pertanian Modern di Indonesia


Tidak dapat dipungkiri Indonesia merupakan negara yang bertumpu pada sektor pertanian. Seiring dengan itu, kegiatan penelitian di bidang sosial-ekonomi pertanian pun telah mengalami proses panjang yang dimulai dengan kajian masalah adopsi teknologi menuju proses komersialisasi usaha tani kecil serta manajemen bisnis dan pemasaran. Dilanjutkan dengan telaah proses demokratisasi, liberalisasi, perlindungan HAM menuju kepada paradigma baru dengan pertimbangan pada kualitas pertumbuhan dengan penekanan pada pelestarian lingkungan, partisipasi masyarakat, kebebasan, kemandirian atau otonomi dan penghargaan pada kelembagaan dan teknologi asli setempat.
Betapapun juga sasaran akhir dari kajian tersebut diarahkan untuk meningkatkan pendapatan, kesejahteraan, daya beli, taraf hidup, kapasitas dan kemandirian, serta akses masyarakat pertanian terhadap berbagai perkembangan. Keadaan tersebut tidak akan dicapai secara optimal tanpa adanya peningkatan dalam usaha pertanian terpadu, dinamis dan berbasis pada agroekosistem, dalam rangka terwujudnya agroindustri dan agrobisnis yang tangguh dan memiliki daya saing tinggi, yang meliputi aspek sosial, ekonomi, demografi, institusional, politik, dan lingkungan. Baik pada tingkat mikro maupun makro.
Berbagai kasus penelitian setelah melalui proses perjalanan yang panjang, pada akhirnya memberikan simpulan bahwa wawasan dan aktifitas wanita di bidang pertanian sama pentingnya dengan pria. Vitalnya peran aktif masyarakat tani, baik pria maupun wanita tersebut dapat tercermin dari pentingnya peran mereka dalam pengembangan kelompok-kelompok masyarakat dan lembaga ekonomi termasuk koperasi di dalamnya.
Prinsip dan Paradigma Penelitian Modern
Prinsip-prinsip dalam penelitian sosial-ekonomi pertanian modern adalah efisiensi, kesetaraan dan kesinambungan yang merupakan suatu "guarantee" terhadap paradigma pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Development), dengan kata kunci bahwa "manusia adalah kunci keberhasilan pembangunan". Disamping itu pendekatan partisipatif adalah model pendekatan yang menjadi trend dimana masyarakat diperankan secara aktif dalam pelaksanaan mekanisme semua aktivitas sosial ekonomi. Tercermin dalam kesamaan kesempatan dan dampak untuk wanita dan pria dalam konteks sosial dan ekonomi.
Pada berbagai kegiatan agribisnis mungkin mengharuskan perempuan diberikan kesempatan khusus untuk menjamin kesamaan akses terhadap berbagai manfaat. Karena sebagian orang memiliki kesempatan yang lebih baik untuk memanfaatkan kesempatan yang ada, maka kita harus mempertimbangkan berbagai hambatan yang ada agar mereka dapat berpartisipasi secara sama. Disinilah pentingnya kegiatan penelitian yang dilakukan secara sistematik untuk mengidentifikasi dan memahami pola pembagian kerja dan kekuasaan antara pria dan wanita. Dalam hal ini pola hubungan sosial keduanya serta dampak/manfaat yang berbeda dari suatu kegiatan-kegiatan pembangunan terhadap pria dan wanita. Metode analisis jender dianggap penting diterapkan dalam proses identifikasi, perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi pembangunan. Analisis ini dimaksudkan agar sungguh-sungguh dapat dipastikan bahwa pria dan wanita sama-sama berpartisipasi sesuai dengan potensi dan aspirasi, kebutuhan serta kepentingan mereka, serta sama-sama memperoleh manfaat yang adil.
Konsep penelitian pertanian berwawasan jender diperkenalkan FAO pada tahun 1993 untuk mendukung sensitivitas jender pada berbagai tantangan pembangunan yang terjadi sekitar tahun 1990-an. Pengembangan prinsip wawasan jender yang dilakukan oleh FAO, UNDP dan Bank Dunia mempercepat penyebaran konsep ini, demikian pula evaluasi terhadap pendekatan program pembangunan wanita melalui Women in Development (WID) dan Gender and Development (GAD). Pengembangan konsep ini dilandasi oleh suatu kebutuhan untuk mengetahui bagaimana kebijakan pembangunan dan program-programnya akan mempengaruhi aktivitas ekonomi dan hubungan sosial diantara kelompok-kelompok ataupun individu yang ada dalam masyarakat.
Konsep ini memfokuskan pada peranan jender, hubungan dan tanggungjawab sistem sosial ekonomi pada tingkat makro (nasional dan internasional) hingga tingkat rumah tangga. Meliputi pula hubungan antara kebijakan pemerintah/dunia internasional, kebijakan daerah, sampai tingkat pengambil keputusan di rumah tangga. Dengan demikian harus terlihat benang merah antara kebijakan yang diambil oleh pemerintah, sektor dan masyarakat. Selain itu dipandang perlunya integrasi antara faktor sosial ekonomi dengan prinsip-prinsip wawasan jender di semua tingkat pengambil keputusan.
Wawasan jender ini didasarkan atas tiga prinsip yaitu efisiensi, kesetaraan dan sustainabilitas. Pendekatan wawasan jender meliputi komponen analisis yang terdiri atas analisis konteks pembangunan, analisis stakeholders, analisis mata pencaharian, serta analisis kebutuhan sumber daya dan kendala. Tingkatan analisis terdiri atas tingkat makro (nasional dan internasional), tingkat intermediate (sektor) dan tingkat mikro (masyarakat/keluarga). Adapun komponen proses terdiri atas partisipasi, membangun jaringan kerja, pengumpulan informasi dan penyelesaian konflik. Prioritas konsep ini adalah pada kelompok yang kurang beruntung.
Dari berbagai pengalaman pembangunan di negara berkembang, ditinjau dari sisi sumber daya manusia, wanita merupakan kelompok yang kurang beruntung. Mereka umumnya mengalami marginalisasi baik di bidang politik, ekonomi, pengetahuan dan sosial. Peran wanita dalam pembangunan, termasuk pembangunan pertanian kurang nampak diperhatikan termasuk yang terjadi di Indonesia, meskipun lebih dari 60 persen kegiatan pertanian dilakukan oleh wanita. Oleh karena itu disadari perlunya suatu metode agar peran wanita dalam pembangunan menjadi nyata. Dengan konsep ini diharapkan peran wanita dan pria dilihat sama pentingnya sehingga akan terjadi efisiensi, kesetaraan dan sustainabilitas sehingga tercapai kemandirian masyarakat dan dapat dievaluasi apabila setiap kebijakan dari sektor sudah memperhatikan Gender mainstreaming.
Pendekatan yang Dilakukan
Pendekatan penelitian pertanian berwawasan jender yang dinyatakan sebagai kunci wawasan jender meliputi peran jender, kelompok yang tidak beruntung dan partisipasi. Mengapa peran jender merupakan kunci sangat penting? Hal tersebut didasarkan atas kenyataan bahwa wanita dan pria secara sosial dibedakan sehingga disebut peran jender. Peran jender tersebut bersifat dinamis yang dapat berbeda karena waktu, tempat, etnis, maupun strata sosial masyarakat. Peran jender berkaitan erat dengan pembagian kerja. Selain itu diperlukan adanya penyadaran bahwa pembangunan harus ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dan prioritasnya bagi pria dan wanita. Oleh karena itu penelitian aspek sosial ekonomi tidak bisa hanya mengacu pada aspek pria, karena secara alami wanita berbeda dengan pria tetapi sebagai sumberdaya manusia mereka semestinya mendapat perlakuan yang sama.
Pemahaman jender sangat penting disosialisasikan kepada para peneliti kita. Masih kurang disadari bahwa potensi wanita cukup besar, lebih-lebih bila dikaitkan dengan jumlah penduduk wanita yang lebih besar daripada pria. Di dalam masyarakat, meskipun peran wanita dan pria sangat penting, namun dalam berbagai kategori sosial dan ekonomi, wanita kurang beruntung dibandingkan pria. Pengalaman menunjukkan danya pembagian kerja yang tidak adil, akses dan kontrol terhadap sumber daya ekonomi dan pengambilan keputusan yang masih rendah. Bahkan kadangkala peran mereka di rumah tangga untuk mempertahankan pangan dan mata pencaharian juga tidak dianggap penting.
Oleh karena itu dalam penelitian pertanian yang berwawasan jender peranan dan prioritas wanita dan pria tidak dilihat secara terpisah tetapi secara bersama-sama. Hal tersebut berkaitan dengan proses pembangunan itu sendiri yang menginginkan perubahan kehidupan menuju kepada kehidupan yang lebih baik, khususnya pada kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Kelompok tersebut adalah kelompok yang mengalami kekurangan sumberdaya yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti pangan, air; pelayanan kesehatan, perumahan, serta faktor sosial-ekonomi yang dapat mempengaruhi perlakuan-perlakuan diskriminasi yang mengakibatkan kemiskinan. Padahal, pengahapusan kemiskinan merupakan hal yang sangat penting untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar