Jumat, 15 April 2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Beranekaragam makhluk hidup dapat kita temui di dunia ini baik tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Seperti halnya tumbuhan, pada hewan juga seringkali kita jumpai adanya persamaan-persamaan yang sejenis. Hal demikian karena jumlah dari berbagai hewan yang hidup di alam sangatlah beragam dan banyak. Sehingga, dari persamaan itulah maka, jenis-jenis hewan tersebut dapat dikelompokkan menurut ciri-ciri yang dimiliki, bentuk, jenis, siklus hidup, habitat, habitus, maupun cara perkembangbiakannya. Secara umum, pengelompokan tersebut terbagi menjadi 5 kelas yaitu: ada kelas pisces, amphibi, aves, reptilia, dan mammalia yang kesemuanya merupakan hewan bertulang belakang. Masing-masing dari kelas hewan tersebut memiliki habitus yang berbeda. Pada reptilia Misalnya,dikelompokkan berdasarkan habitusnya sebagai hewan melata. Tidak hanya itu, untuk memperbanyak jenisnya mereka mempunyai tingkah laku yang bermacam-macam. Biasanya fertilisasi pada reptil dilakukan secara internal. Dengan demikian, dari perbedaan-perbedaan yang dimiliki pada setiap hewan maka, sangat penting bagi kita untuk mengetahui, mempelajari, dan memahami karakteristiknya, terlebih lagi cara perkembangbiakannya sehingga, kita dapat melihat betapa indah dan baragamnya penciptaan Allah dengan bentuk kesesuaiannya masing-masing. Firman Allah dalam Al-Quran:
“sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan fungsinya.”
kadal yaitu merupakan jenis Reptilia yang paling banyak ditemukan dan beraneka ragam jenisnya sampai saat ini, sebagian mereka bentuknya relative kecil (Campbell, 1999).
pada pembahasan makalah ini akan disajikan beberapa penjelasan tentang aspek-aspek fertilisasi kelas reptilia, dalam hal ini digunakan kadal sebagai spesies yang mewakilinya.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka, diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:
Apa saja karakter umum dari reptil?
Apa pengertian fertisasai?
Bagaimana klasifikasi kadal (mabouya nuktifasciata)?
bagaimana aspek fertilisasi pada kadal (mabouya nuktifasciata)?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusam masalah di atas maka tujuan dari makalah ini sebagai berikut:
untuk mengetahui karakteristik umum dari reptilia
untuk mengetahui pengertian fertilisasi
untuk mengetahui klasifikasi kadal (mabouya nuktifasciata)
untuk mengetahui aspek fertilisasi pada kadal (mabouya nuktifasciata)

















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik Reptilia
Kelas reptilia (latin: repere =merangkak,merayap). kura-kura, ular, kadal, buaya, tokek, cicak, semuanya ini termasuk klas reptilia. Di antara jenis reptilia yang hidup sekarang ini tidak ada satu jenis pun yang dapat terbang. Tetapi, di tanah air kita ada sejenis reptilia yaitu, semacam bunglon yang dapat melayang dari pohon ke pohon, karena mempunyai selaput yang terbentang dari kaki muka ke kaki belakang. Umumnya hewan ini dikenal sebagai cicak terbang (Draco volans). Di bagian dunia yang mempunyai iklim panas seperti indonesia ini, di antara jenis-jenis reptilia yang hidup di air maupun di darat terdapat banyak keanekaragaman. Bila di bandingkan, kura-kura yang tubuhnya dilindungi oleh “perisai” tebal dan kuat sehingga, pergerakannya sangat lamban, dengan kadal yang berbadan langsing dan bergerak dengan gesit. Buaya berenang di dalam lumpur dan bunglon yang meloncat tinggi di antara cabang-cabang pohon dan dengan ekornya dapat berpegang erat pada suatu ranting. Adaptasi dalam struktur tubuh reptilia paling lanjut kita dapatkan pada ular. Ada ular yang membenamkan dirinya dalam liang yang sempit. Ada yang “memanjat” dengan melilitkan diri di pohon dan ada lagi yang berenang dengan cepat di dalam air. Tetapi semuanya ini tanpa kaki. (idjah, soemarwoto.1992.hal 143-145).
Reptil berdarah dingin (poikilothermus). Tubuh hewan reptil umumnya ditutup oleh sisik (misalnya ular) dan pada hewan tertentu ditutup oleh lempengan tulang (misalnya kura-kura).
Dibawah ini ciri-ciri pada reptil:
Umumnya tubuh reptil dapat dibedakan menjadi caput (kepala), cervic (leher), truncus (badan) dan cauda (ekor).
Urutan jalan Sistem pencernaan yang dilalui oleh makanan pada hewan reptil dimulai dari rima oris-esophagus-ventriculus (lambung)-intestinum tennuae (usus halus)-interstinum crassum (usus kasar)-kloaka. Mempunyai kelenjar pankreas yang menghasilkan getah pencernaan. Hepar (hati) dilengkapi dengan vesika fellea yang berfungsi menyimpan cairan empedu.
Sistem peredaran darah terdiri dari jantung, dengan 4 ruangan antara lain:
Atrium dextra (serambi kanan)
Atrium sinistra (serambi kiri)
Ventriculum dextra (bilik kanan)
Ventriculum sinistra (bilik kiri)
Darah yang telah dipergunakan baik oleh tubuh bagian depan maupun belakang masuk kedalam jantung melalui atrium dextra. Atrium sinistra menerima darah bersih dari paru-paru. Ventriculum dextra berfungsi memompa darah ke paru-paru, sedang ventriculum sinistra memompa darah keseluruh tubuh.
Sistem pernafasan pada reptil berupa paru-paru yang berbentuk kantung. Udara masuk ke rongga mulut melalui lubang hidung luar atau dalam. Pada waktu glotis terbuka, udara masuk kedalam larynx kemudian menuju trachea. Trachea bercabang membentuk dua bronchus yang selanjutnya masing-masing menuju ke paru-paru.
Sistem ekskresi: urine yang merupakan filtrat ren (ginjal) dibuang melalui ureter menuju kloaka. Sesudah disimpan di dalam vesica urinaria.
Reptil beradaptasi ke habitat terestik (darat). Berikut ini juga ciri lainnya yang menunjukkan bahwa kelas reptil:
Kulit kering
Memiliki 2 pasang anggota gerak yang cocok untuk lari cepat
Jantung terdiri dari 4 ruang, dua atrium dan dua ventriculum. Antara kedua ventriculum terdapat sekat yang membatasinya secara sempurna. Pada crocodilia pada sekat tersebut terdapat lubang yang disebut foramen panizzae.
Mempunyai alat kopulasi.
Telur dibungkus oleh lapisan cangkang sesuai dengan habitat terestrial dan juga dilapisi oleh selaput untuk melindungi embrio dari kekeringan. (soemiadji 86 hal.4.38-4.40)

2.2 Pengertian Fertilisasi
Fertilisasi atau pembuahan merupakan peristiwa meleburnya gamet jantan dan gamet betina (haploid) membentuk zigot (diploid). Penyerentakan reproduksi secara khas dari jantan tertentu untuk betina tertentu untuk betina tertentu seringkali memerlukan suatu bentuk rayuan. Rayuan ini dimulai oleh pejantan atau betina, dapat merupakan suatu upacara singkat. Rayuan ini juga mempunyai peranan tambahan cenderung dapat mengurangi sifat agresif dan menentukan identitas spesies dan kelamin, yaitu menentukan anggota spesies yang sama tetapi kelamin yang berlawanan. Pada spesies yang kontrolnya terhadap sifat agresif sangat sulit dilakukan, sehingga terdapat adaptasi struktural dan fungsional yang khusus. Yaitu: Fertilisasi pada hewan terdiri atas dua cara yaitu fertilisasi eksternal dan fertilisasi internal.
Fertilisasi eksternal
merupakan penyatuan sperma dan ovum di luar tubuh hewan betina, yakni berlangsung dalam suatu media cair, misalnya air. Hal ini umum terjadi pada sejumlah hewan laut dan hewan air tawar. Contohnya pada ikan (pisces) dan amfibi (katak).
Fertilisasi internal
merupakan penyatuan sperma dan ovum yang terjadi di dalam tubuh hewan betina. Fertilisasi internal memerlukan kopulasi, yaitu masuknya alat kelamin jantan ke dalam alat kelamin betina. Biasanya terdapat sutau mekanisme neural dan hormonal yang rumit agar terjadi daya tarik dan perilaku prakopulasi yang diperlukan untuk kopulasi. Keadaan kering di daratan tidak memungkinkan terjadinya fertilisasi eksternal. Kemungkinan terjadinya fertilisasi ditingkatkan oleh fertilisasi internal karena sperma berada di dekat telur. Fertilisasi internal dimanfaatkan oleh sejumlah hewan yaitu sperma dari pejantan dapat disimpan dalam tubuh betina dan telur dapat terus diproduksi dan dibuahi tanpa dibutuhkan pejantan. Fertilisasi internal terjadi pada hewan yang hidup di darat (terestrial), misalnya hewan dari kelompok reptil. Setelah fertilisasi internal, ada tiga cara perkembangan embrio dan kelahiran keturunannya, yaitu dengan cara ovipar, vivipar dan ovovivipar.(villae hal. 327-328)
Ovipar (Bertelur)
Ovipar merupakan embrio yang berkembang dalam telur dan dilindungi oleh cangkang. Embrio mendapat makanan dari cadangan makanan yang ada di dalam telur. Telur dikeluarkan dari tubuh induk betina lalu dierami hingga menetas menjadi anak. Ovipar terjadi pada burung dan beberapa jenis reptil.
Vivipar (Beranak)
Vivipar merupakan embrio yang berkembang dan mendapatkan makanan dari dalam uterus (rahim) induk betina. Setelah anak siap untuk dilahirkan, anak akan dikeluarkan dari vagina induk betinanya. Contoh hewan vivipar adalah kelompok mamalia (hewan yang menyusui), misalnya kelinci dan kucing.
Ovovivipar (Bertelur dan Beranak)
Ovovivipar merupakan embrio yang berkembang di dalam telur, tetapi telur tersebut masih tersimpan di dalam tubuh induk betina. Embrio mendapat makanan dari cadangan makanan yang berada di dalam telur. Setelah cukup umur, telur akan pecah di dalam tubuh induknya dan anak akan keluar dari vagina induk betinanya. Contoh hewan ovovivipar adalah kelompok reptil (kadal) dan ikan hiu.

Klasifikasi pada Reptil sebagai berikut:
1) ordo chaelonia. contoh: kura-kura, penyu
2) ordo Rhynchocephalia. Contoh: spenodon punctatum (new zeeland)
3) ordo squamata
Sub ordo sauria (lacertilia). Contoh: kadal
Sub ordo serpentes (ophidia). Contoh: ular
4) crododilia. Contoh: buaya, aligator.

Fertilisasi pada Reptil
Perbedaan antara alat kelamin jantan pada vertebrata tingkat rendah dengan tingkat tinggi, berkaitan dengan perbedaan dalam cara reproduksi. Pada reptilia, burung, dan mammalia, fertilisasi terjadi di dalam (internal). (villae hal.332)

Reptil jantan mempunyai sepasang testes yang terletak di dalam tubuh. Spermatozoid yang dihasilkan dikeluarkan melalui vas deferentia. Dengan alat kopulasi seperti penis, spermatozoid dimasukkan kedalam tubuh si betina. Reptil mengadakan pembuahan didalam (fertilisasi internal).

Jenis betina mempunyai sepasang ovarium, ductus ovarium. Penyu adalah hewan oviparus (bertelur) tetapi ada jenis reptil yang lain ovoviviparus (bertelur beranak) misalnya kadal (mabouya multifastiaca). alat kopulasi yang dimiliki kadal, disebut hemipenis yang menekan daerah kloaka. Kadal memiliki dua hemipenis (alat kopulasi) yang relatif besar dibandingkan dengan badannya yang kecil.(soemiadji, 1986,hal. 4.39)


2.3 Klasifikasi Kadal Mabouya multifastiaca, Kuhl.

Adapun Wakil dari kelas reptilia: Mabouya multifastiaca, Kuhl. (kadal)
Menurut Coudrokusumo (1983) klasifikasi dari kadal (Mabouya multifasciata)sebagai berikut:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Sub phylum: Vertebrata
Class: Reptilia
Ordo: Squamata
Sub ordo: lacertilia
Family: Scincidae
Genus: Mabouya
Spesies: Mabouya multifasciata


Karakteristik kadal (Mabouya multifasciata):
Badan tertutup oleh squamae yang menanduk dan tidak berlendir.
Mempunyai 2 pasang kaki dengan 3 digiti yang berfalculer.
Cor terdiri atas 2 atria dan 2 ventriculus, dimana septum ventricolorumnya kurang sempurna.
Erythrocyt masih bernukleus.
Bernafas dengan pulmo.
Fertilisasi secara internal, mempunyai alat kopulasi berupa sepasang hemipenis.

2.4 Aspek Fertilisasi
Reptil-kadal mempunyai alat kelamin jantan dan betina yang terpisah pada dua individu.
Pada kadal jantan, testisnya berbentuk oval, relatif kecil, berwarna keputih-putihan, berjumlah sepasang, dan terletak di dorsal rongga abdomen. Pada kadal dan ular, salah satu testis terletak lebih ke depan dari pada yang lain. Testis akan membesar saat musim kawin. Pada kadal terdapat saluran reproduksi berupa hemipenis. (Brotowidjoyo, 1989).
Saluran reproduksi: duktus mesonefrus berfungsi sebagai saluran reproduksi, dan saluran ini akan menuju kloaka. pada banyak hewan seluruh vas deferens sampai kloaka dipakai sebagai tempat menyimpan mani. Sebagian duktus wolf dekat testis bergelung membentuk epididimis. Tubulus mesonefrus membentuk duktus aferen yang menghubungkan tubulus seminiferus testis dengan epididimis. Duktus wolf bagian posterior menjadi duktus deferen. Pada kebanyakan reptil, duktus deferen bersatu dengan ureter dan memasuki kloaka melalui satu lubang, yaitu sinus urogenital yang pendek (kastawi, 2002).

Gambar sistem urogenital pada jantan (Sukiya, 2005) gambar sistem reproduksi pada kadal (Boolotion, 1979)

Arkhinefros atau pembuluh Wolffan mengalami degenerasi pada reptil betina, tapi pada hewan jantan menjadi saluran genital yang fungsional dan ujung atas bergelung disebut epididimis. Telur reptil dibuahi secara khusus untuk memindahkan sperma ke betinanya. Organ ini pada kadal dan ular terdapat sepasang, teretak di sekitar kloaka disebut hemipenis. Oleh karena sudah mempunyai alat kopulasi, maka hewan ini mengadakan fertilisasi secara internal. Struktur organ kawin pada buaya dan kura-kura mungkin homolog dengan mamalia (Sukiya, 2005)
Sistem reproduksi pada betina: Pada kadal betina, gonadnya berupa ovarium yang berjumlah sepasang, berbentuk oval dengan bagian permukaannya benjol-benjol. Letaknya tepat di bagian ventral kolumna vertebralis. Ovarium yang tersebut dua-dua nya dapat berkembang secara sempurna tanpa ada salah satu yang mengalami rudimenter.
Saluran reproduksi pada betina berupa oviduk panjang dan bergelung. Bagian anterior terbuka ke rongga selom sebagai ostium, sedang bagian posterior bermuara di kloaka. Dinding bersifat glanduler, bagian anterior menghasilkan albumin yang berfungsi untuk membungkus sel telur, kecuali pada ular dan kadal. Bagian posterior sebagai shell gland akan menghasilkan cangkang kapur (Anonymous, 2008).
Organ genitalia pada hewan betina dimulai dari ovarium dan oviduct. Dinding ventral kloaka mengadakan suatu penonjolan berupa kantong tipis, disebut vesica urinaria kemungkinan vesica urinaria ini berisi air yang digunakan untuk membasahi pasir apabila akan meletakkan telurnya. kadal mempunyai mempunyai ovarium yang sacculer. Pada kadal, ovarium memanjang dan tidak simetris. Hanya saccus vitellinus pada telur reptilia dibentuk didalam ovarium, sehingga seperti ovum yang sebenarnya. Ovarium berjumlah sepasang terletak retroperitoneal tepat di ventral dari columna vertebralis sedikit ke caudal dari pertengahan badan. Oviduct terletak lateral dari ovarium, mulai dengan pelebaran sebagai corong yang disebut infundibulum dengan lubang masuknya disebut ostium abdominale. Oviduct dilanjutkan dengan uterus yang bermuara dalam kloaka di dinding dorsal agak ke kranial dari muara ureter. Perkembangan embrio terjadi di dalam uterus. Pada semua reptilia fertilisasi secara interna dan terjadi di bagian atas (anterior) oviduct. Sebagian besar reptilia bersifat ovipar, tetapi beberapa ular dan kadal ada yang ovovivipar yaitu telur tetap dipertahankan didalam oviduct hingga hewan muda keluar. Organa genitalis tersebut mempunyai alat penggantung untuk mengikatkan dirinya pada dinding tubuh, misalnya: mesovarium (alat penggantung ovarium), mesorchium (alat penggantung testis), ligamentum latum (alat penggantung oviduct).
















Gambar sistem urogenital pada betina (Sukiya, 2005)


Kelenjar-kelenjar atau alat-alat lain yang terdapat pada hewan ini adalah:
Sepasang glandula thyroidea, terletak di kanan kiri trachea.
Sepasang thymus, terletak di kanan kiri trachea tetapi lebih ke caudal daripada glandula thyroidea.
Pada yang dewasa glandula ini mengecil atau bahkan menghilang.
Sepasang glandula suprarenalis, pada hewan betina glandula ini terletak dekat medial ovarium. Pada yang jantan glandula ini menempel pada bagian medial epididymis.
Sepasang corpus adiposum, terletak tepat di cranial testis, berupa jaringan lemak yang menguning. (radiopoetro, 1996, hal.530)
Telur reptile sedikit lebih keras di bandingkan dengan amphibi. kuning telur lebih banyak di butuhkan untuk perkembangan embrio dan setelah menetas. Dan telurnya juga sering di selubungi oleh albumen dan lapisan pembungkus luar berupa cangkang kalkareus (Cangkang kapur). (Sukiya, 2005).

Alat-alat endokrin
Pada golongan kadal yang ovovivipar telah dijumpai adanya corpus luteum. Juga pada hoplodacylus sp. (kadal vivipar) dijumpai adanya progesteron dan homolognya pada periode progestasi. (radiopoetro, 1996,hal. 519)
Kelenjar paratiroid seringkali lebih kranial dari kelenjar tiroid dan tidak berpasangan. Kelenjar endokrin lain pada reptil tidak berbeda nyata dengan kebanyakan vertebrata tingkat tinggi (Sukiya, 2005 : 64). Terdapat Hubungan antara Sistem Saraf dan Endokrin, yaitu:
Hipofisis Posterior (jaringan saraf) menyimpan dan mensekresi hormon yang dibentuk oleh hipotalamus (jaringan saraf) ● Hipofisis Anterior (kelenjar endokrin) ● mensekresi hormon-bila mendapat Releasing Hormone(RH) dari hipotalamus ● berhenti mensekresi hormon-bila mendapat Inhibiting Hormone (IH) dari hipotalamus● Hipofisis anterior mengarahkan kelenjar hormon lainnya.

Tingkah laku kadal
Kadal betina terbukti lebih unggul dibanding kadal jantan. Mereka menentukan pasangan, memegang keputusan tentang di mana mereka akan tinggal, bahkan juga menentukan jenis kelamin anak. Semua siklus reproduksi dan perkawinan sangat tergantung oleh pihak betina. Ukuran tubuh betinanya hanya setengah dari kadal jantan. Namun mereka memiliki siklus reproduksi yang cukup unik. Bukan hanya menentukan pasangan dan tempat tinggal saja, kadal betina juga bebas berpasangan dengan lima atau enam kadal jantan sekaligus dalam sekali masa reproduksi. kadal betina mengumpulkan semua sperma dari pasangannya di dalam rongga perutnya yang bernama spermatesa. Ia juga bebas memilih sperma ini untuk menentukan jenis kelamin anak sesuai keinginannya. secara teori, mereka memilih sperma berdasarkan kromosom seks. Kepioniran kadal betina dibanding pejantannya ini masih merupakan teka-teki, sebab terbukti tubuh kadal betina lebih kecil dari pejantan.










BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah di uraikan di atas maka, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Adapun karakter umum dari reptil antara lain: Tubuh terdiri dari empat bagian yaitu : kepala, leher, badan dan ekor. mempunyai 2 kategori sisik, yaitu sisik epidermal dan dermal. Kulit kering, Jantung terdiri dari 4 ruang, dua atrium dan dua ventriculum, Mempunyai alat kopulasi, Telur dibungkus oleh lapisan cangkang. berdarah dingin (poikilothermus) dan alat kelamin jantan dan betina yang terpisah.


















DAFTAR PUSTAKA

Brotowijoyo. 1990. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga
Campbell, Neil. 1999. Biologi jilid 1. Jakarta: Erlangga
Cokrokusumo. 1983. Pengantar Vertebrata. Jakarta: Erlangga
Jasin,Maskoeri.1984.Sistematika Hewan Avertebrata Dan Vertebrata. Surabaya: Sinar wijaya
Kastawi, dkk. 1992. Vertebrata. Malang : IKIP
Kimball, john. 1991. Biologi edisi kelima jilid 3. Jakarta: Erlangga
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Jakarta: Erlangga
Soemarwoto, idjah dkk. 1992. Biologi Umum 1. Jakarta: PT.Gramedia pustaka Utama
Soemiadji. 1986. Biologi. Jakarta: Karunika
Sukiya. 2005. Biologi Vertebrata. Malang: UM Press
Villae, claude A. Dkk. 1984. Zoologi Umum. Jakarta: Erlangga






BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Beranekaragam makhluk hidup dapat kita temui di dunia ini baik tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Seperti halnya tumbuhan, pada hewan juga seringkali kita jumpai adanya persamaan-persamaan yang sejenis. Hal demikian karena jumlah dari berbagai hewan yang hidup di alam sangatlah beragam dan banyak. Sehingga, dari persamaan itulah maka, jenis-jenis hewan tersebut dapat dikelompokkan menurut ciri-ciri yang dimiliki, bentuk, jenis, siklus hidup, habitat, habitus, maupun cara perkembangbiakannya. Secara umum, pengelompokan tersebut terbagi menjadi 5 kelas yaitu: ada kelas pisces, amphibi, aves, reptilia, dan mammalia yang kesemuanya merupakan hewan bertulang belakang. Masing-masing dari kelas hewan tersebut memiliki habitus yang berbeda. Pada reptilia Misalnya,dikelompokkan berdasarkan habitusnya sebagai hewan melata. Tidak hanya itu, untuk memperbanyak jenisnya mereka mempunyai tingkah laku yang bermacam-macam. Biasanya fertilisasi pada reptil dilakukan secara internal. Dengan demikian, dari perbedaan-perbedaan yang dimiliki pada setiap hewan maka, sangat penting bagi kita untuk mengetahui, mempelajari, dan memahami karakteristiknya, terlebih lagi cara perkembangbiakannya sehingga, kita dapat melihat betapa indah dan baragamnya penciptaan Allah dengan bentuk kesesuaiannya masing-masing. Firman Allah dalam Al-Quran:
“sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan fungsinya.”
kadal yaitu merupakan jenis Reptilia yang paling banyak ditemukan dan beraneka ragam jenisnya sampai saat ini, sebagian mereka bentuknya relative kecil (Campbell, 1999).
pada pembahasan makalah ini akan disajikan beberapa penjelasan tentang aspek-aspek fertilisasi kelas reptilia, dalam hal ini digunakan kadal sebagai spesies yang mewakilinya.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka, diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:
Apa saja karakter umum dari reptil?
Apa pengertian fertisasai?
Bagaimana klasifikasi kadal (mabouya nuktifasciata)?
bagaimana aspek fertilisasi pada kadal (mabouya nuktifasciata)?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusam masalah di atas maka tujuan dari makalah ini sebagai berikut:
untuk mengetahui karakteristik umum dari reptilia
untuk mengetahui pengertian fertilisasi
untuk mengetahui klasifikasi kadal (mabouya nuktifasciata)
untuk mengetahui aspek fertilisasi pada kadal (mabouya nuktifasciata)

















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik Reptilia
Kelas reptilia (latin: repere =merangkak,merayap). kura-kura, ular, kadal, buaya, tokek, cicak, semuanya ini termasuk klas reptilia. Di antara jenis reptilia yang hidup sekarang ini tidak ada satu jenis pun yang dapat terbang. Tetapi, di tanah air kita ada sejenis reptilia yaitu, semacam bunglon yang dapat melayang dari pohon ke pohon, karena mempunyai selaput yang terbentang dari kaki muka ke kaki belakang. Umumnya hewan ini dikenal sebagai cicak terbang (Draco volans). Di bagian dunia yang mempunyai iklim panas seperti indonesia ini, di antara jenis-jenis reptilia yang hidup di air maupun di darat terdapat banyak keanekaragaman. Bila di bandingkan, kura-kura yang tubuhnya dilindungi oleh “perisai” tebal dan kuat sehingga, pergerakannya sangat lamban, dengan kadal yang berbadan langsing dan bergerak dengan gesit. Buaya berenang di dalam lumpur dan bunglon yang meloncat tinggi di antara cabang-cabang pohon dan dengan ekornya dapat berpegang erat pada suatu ranting. Adaptasi dalam struktur tubuh reptilia paling lanjut kita dapatkan pada ular. Ada ular yang membenamkan dirinya dalam liang yang sempit. Ada yang “memanjat” dengan melilitkan diri di pohon dan ada lagi yang berenang dengan cepat di dalam air. Tetapi semuanya ini tanpa kaki. (idjah, soemarwoto.1992.hal 143-145).
Reptil berdarah dingin (poikilothermus). Tubuh hewan reptil umumnya ditutup oleh sisik (misalnya ular) dan pada hewan tertentu ditutup oleh lempengan tulang (misalnya kura-kura).
Dibawah ini ciri-ciri pada reptil:
Umumnya tubuh reptil dapat dibedakan menjadi caput (kepala), cervic (leher), truncus (badan) dan cauda (ekor).
Urutan jalan Sistem pencernaan yang dilalui oleh makanan pada hewan reptil dimulai dari rima oris-esophagus-ventriculus (lambung)-intestinum tennuae (usus halus)-interstinum crassum (usus kasar)-kloaka. Mempunyai kelenjar pankreas yang menghasilkan getah pencernaan. Hepar (hati) dilengkapi dengan vesika fellea yang berfungsi menyimpan cairan empedu.
Sistem peredaran darah terdiri dari jantung, dengan 4 ruangan antara lain:
Atrium dextra (serambi kanan)
Atrium sinistra (serambi kiri)
Ventriculum dextra (bilik kanan)
Ventriculum sinistra (bilik kiri)
Darah yang telah dipergunakan baik oleh tubuh bagian depan maupun belakang masuk kedalam jantung melalui atrium dextra. Atrium sinistra menerima darah bersih dari paru-paru. Ventriculum dextra berfungsi memompa darah ke paru-paru, sedang ventriculum sinistra memompa darah keseluruh tubuh.
Sistem pernafasan pada reptil berupa paru-paru yang berbentuk kantung. Udara masuk ke rongga mulut melalui lubang hidung luar atau dalam. Pada waktu glotis terbuka, udara masuk kedalam larynx kemudian menuju trachea. Trachea bercabang membentuk dua bronchus yang selanjutnya masing-masing menuju ke paru-paru.
Sistem ekskresi: urine yang merupakan filtrat ren (ginjal) dibuang melalui ureter menuju kloaka. Sesudah disimpan di dalam vesica urinaria.
Reptil beradaptasi ke habitat terestik (darat). Berikut ini juga ciri lainnya yang menunjukkan bahwa kelas reptil:
Kulit kering
Memiliki 2 pasang anggota gerak yang cocok untuk lari cepat
Jantung terdiri dari 4 ruang, dua atrium dan dua ventriculum. Antara kedua ventriculum terdapat sekat yang membatasinya secara sempurna. Pada crocodilia pada sekat tersebut terdapat lubang yang disebut foramen panizzae.
Mempunyai alat kopulasi.
Telur dibungkus oleh lapisan cangkang sesuai dengan habitat terestrial dan juga dilapisi oleh selaput untuk melindungi embrio dari kekeringan. (soemiadji 86 hal.4.38-4.40)

2.2 Pengertian Fertilisasi
Fertilisasi atau pembuahan merupakan peristiwa meleburnya gamet jantan dan gamet betina (haploid) membentuk zigot (diploid). Penyerentakan reproduksi secara khas dari jantan tertentu untuk betina tertentu untuk betina tertentu seringkali memerlukan suatu bentuk rayuan. Rayuan ini dimulai oleh pejantan atau betina, dapat merupakan suatu upacara singkat. Rayuan ini juga mempunyai peranan tambahan cenderung dapat mengurangi sifat agresif dan menentukan identitas spesies dan kelamin, yaitu menentukan anggota spesies yang sama tetapi kelamin yang berlawanan. Pada spesies yang kontrolnya terhadap sifat agresif sangat sulit dilakukan, sehingga terdapat adaptasi struktural dan fungsional yang khusus. Yaitu: Fertilisasi pada hewan terdiri atas dua cara yaitu fertilisasi eksternal dan fertilisasi internal.
Fertilisasi eksternal
merupakan penyatuan sperma dan ovum di luar tubuh hewan betina, yakni berlangsung dalam suatu media cair, misalnya air. Hal ini umum terjadi pada sejumlah hewan laut dan hewan air tawar. Contohnya pada ikan (pisces) dan amfibi (katak).
Fertilisasi internal
merupakan penyatuan sperma dan ovum yang terjadi di dalam tubuh hewan betina. Fertilisasi internal memerlukan kopulasi, yaitu masuknya alat kelamin jantan ke dalam alat kelamin betina. Biasanya terdapat sutau mekanisme neural dan hormonal yang rumit agar terjadi daya tarik dan perilaku prakopulasi yang diperlukan untuk kopulasi. Keadaan kering di daratan tidak memungkinkan terjadinya fertilisasi eksternal. Kemungkinan terjadinya fertilisasi ditingkatkan oleh fertilisasi internal karena sperma berada di dekat telur. Fertilisasi internal dimanfaatkan oleh sejumlah hewan yaitu sperma dari pejantan dapat disimpan dalam tubuh betina dan telur dapat terus diproduksi dan dibuahi tanpa dibutuhkan pejantan. Fertilisasi internal terjadi pada hewan yang hidup di darat (terestrial), misalnya hewan dari kelompok reptil. Setelah fertilisasi internal, ada tiga cara perkembangan embrio dan kelahiran keturunannya, yaitu dengan cara ovipar, vivipar dan ovovivipar.(villae hal. 327-328)
Ovipar (Bertelur)
Ovipar merupakan embrio yang berkembang dalam telur dan dilindungi oleh cangkang. Embrio mendapat makanan dari cadangan makanan yang ada di dalam telur. Telur dikeluarkan dari tubuh induk betina lalu dierami hingga menetas menjadi anak. Ovipar terjadi pada burung dan beberapa jenis reptil.
Vivipar (Beranak)
Vivipar merupakan embrio yang berkembang dan mendapatkan makanan dari dalam uterus (rahim) induk betina. Setelah anak siap untuk dilahirkan, anak akan dikeluarkan dari vagina induk betinanya. Contoh hewan vivipar adalah kelompok mamalia (hewan yang menyusui), misalnya kelinci dan kucing.
Ovovivipar (Bertelur dan Beranak)
Ovovivipar merupakan embrio yang berkembang di dalam telur, tetapi telur tersebut masih tersimpan di dalam tubuh induk betina. Embrio mendapat makanan dari cadangan makanan yang berada di dalam telur. Setelah cukup umur, telur akan pecah di dalam tubuh induknya dan anak akan keluar dari vagina induk betinanya. Contoh hewan ovovivipar adalah kelompok reptil (kadal) dan ikan hiu.

Klasifikasi pada Reptil sebagai berikut:
1) ordo chaelonia. contoh: kura-kura, penyu
2) ordo Rhynchocephalia. Contoh: spenodon punctatum (new zeeland)
3) ordo squamata
Sub ordo sauria (lacertilia). Contoh: kadal
Sub ordo serpentes (ophidia). Contoh: ular
4) crododilia. Contoh: buaya, aligator.

Fertilisasi pada Reptil
Perbedaan antara alat kelamin jantan pada vertebrata tingkat rendah dengan tingkat tinggi, berkaitan dengan perbedaan dalam cara reproduksi. Pada reptilia, burung, dan mammalia, fertilisasi terjadi di dalam (internal). (villae hal.332)

Reptil jantan mempunyai sepasang testes yang terletak di dalam tubuh. Spermatozoid yang dihasilkan dikeluarkan melalui vas deferentia. Dengan alat kopulasi seperti penis, spermatozoid dimasukkan kedalam tubuh si betina. Reptil mengadakan pembuahan didalam (fertilisasi internal).

Jenis betina mempunyai sepasang ovarium, ductus ovarium. Penyu adalah hewan oviparus (bertelur) tetapi ada jenis reptil yang lain ovoviviparus (bertelur beranak) misalnya kadal (mabouya multifastiaca). alat kopulasi yang dimiliki kadal, disebut hemipenis yang menekan daerah kloaka. Kadal memiliki dua hemipenis (alat kopulasi) yang relatif besar dibandingkan dengan badannya yang kecil.(soemiadji, 1986,hal. 4.39)


2.3 Klasifikasi Kadal Mabouya multifastiaca, Kuhl.

Adapun Wakil dari kelas reptilia: Mabouya multifastiaca, Kuhl. (kadal)
Menurut Coudrokusumo (1983) klasifikasi dari kadal (Mabouya multifasciata)sebagai berikut:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Sub phylum: Vertebrata
Class: Reptilia
Ordo: Squamata
Sub ordo: lacertilia
Family: Scincidae
Genus: Mabouya
Spesies: Mabouya multifasciata


Karakteristik kadal (Mabouya multifasciata):
Badan tertutup oleh squamae yang menanduk dan tidak berlendir.
Mempunyai 2 pasang kaki dengan 3 digiti yang berfalculer.
Cor terdiri atas 2 atria dan 2 ventriculus, dimana septum ventricolorumnya kurang sempurna.
Erythrocyt masih bernukleus.
Bernafas dengan pulmo.
Fertilisasi secara internal, mempunyai alat kopulasi berupa sepasang hemipenis.

2.4 Aspek Fertilisasi
Reptil-kadal mempunyai alat kelamin jantan dan betina yang terpisah pada dua individu.
Pada kadal jantan, testisnya berbentuk oval, relatif kecil, berwarna keputih-putihan, berjumlah sepasang, dan terletak di dorsal rongga abdomen. Pada kadal dan ular, salah satu testis terletak lebih ke depan dari pada yang lain. Testis akan membesar saat musim kawin. Pada kadal terdapat saluran reproduksi berupa hemipenis. (Brotowidjoyo, 1989).
Saluran reproduksi: duktus mesonefrus berfungsi sebagai saluran reproduksi, dan saluran ini akan menuju kloaka. pada banyak hewan seluruh vas deferens sampai kloaka dipakai sebagai tempat menyimpan mani. Sebagian duktus wolf dekat testis bergelung membentuk epididimis. Tubulus mesonefrus membentuk duktus aferen yang menghubungkan tubulus seminiferus testis dengan epididimis. Duktus wolf bagian posterior menjadi duktus deferen. Pada kebanyakan reptil, duktus deferen bersatu dengan ureter dan memasuki kloaka melalui satu lubang, yaitu sinus urogenital yang pendek (kastawi, 2002).

Gambar sistem urogenital pada jantan (Sukiya, 2005) gambar sistem reproduksi pada kadal (Boolotion, 1979)

Arkhinefros atau pembuluh Wolffan mengalami degenerasi pada reptil betina, tapi pada hewan jantan menjadi saluran genital yang fungsional dan ujung atas bergelung disebut epididimis. Telur reptil dibuahi secara khusus untuk memindahkan sperma ke betinanya. Organ ini pada kadal dan ular terdapat sepasang, teretak di sekitar kloaka disebut hemipenis. Oleh karena sudah mempunyai alat kopulasi, maka hewan ini mengadakan fertilisasi secara internal. Struktur organ kawin pada buaya dan kura-kura mungkin homolog dengan mamalia (Sukiya, 2005)
Sistem reproduksi pada betina: Pada kadal betina, gonadnya berupa ovarium yang berjumlah sepasang, berbentuk oval dengan bagian permukaannya benjol-benjol. Letaknya tepat di bagian ventral kolumna vertebralis. Ovarium yang tersebut dua-dua nya dapat berkembang secara sempurna tanpa ada salah satu yang mengalami rudimenter.
Saluran reproduksi pada betina berupa oviduk panjang dan bergelung. Bagian anterior terbuka ke rongga selom sebagai ostium, sedang bagian posterior bermuara di kloaka. Dinding bersifat glanduler, bagian anterior menghasilkan albumin yang berfungsi untuk membungkus sel telur, kecuali pada ular dan kadal. Bagian posterior sebagai shell gland akan menghasilkan cangkang kapur (Anonymous, 2008).
Organ genitalia pada hewan betina dimulai dari ovarium dan oviduct. Dinding ventral kloaka mengadakan suatu penonjolan berupa kantong tipis, disebut vesica urinaria kemungkinan vesica urinaria ini berisi air yang digunakan untuk membasahi pasir apabila akan meletakkan telurnya. kadal mempunyai mempunyai ovarium yang sacculer. Pada kadal, ovarium memanjang dan tidak simetris. Hanya saccus vitellinus pada telur reptilia dibentuk didalam ovarium, sehingga seperti ovum yang sebenarnya. Ovarium berjumlah sepasang terletak retroperitoneal tepat di ventral dari columna vertebralis sedikit ke caudal dari pertengahan badan. Oviduct terletak lateral dari ovarium, mulai dengan pelebaran sebagai corong yang disebut infundibulum dengan lubang masuknya disebut ostium abdominale. Oviduct dilanjutkan dengan uterus yang bermuara dalam kloaka di dinding dorsal agak ke kranial dari muara ureter. Perkembangan embrio terjadi di dalam uterus. Pada semua reptilia fertilisasi secara interna dan terjadi di bagian atas (anterior) oviduct. Sebagian besar reptilia bersifat ovipar, tetapi beberapa ular dan kadal ada yang ovovivipar yaitu telur tetap dipertahankan didalam oviduct hingga hewan muda keluar. Organa genitalis tersebut mempunyai alat penggantung untuk mengikatkan dirinya pada dinding tubuh, misalnya: mesovarium (alat penggantung ovarium), mesorchium (alat penggantung testis), ligamentum latum (alat penggantung oviduct).
















Gambar sistem urogenital pada betina (Sukiya, 2005)


Kelenjar-kelenjar atau alat-alat lain yang terdapat pada hewan ini adalah:
Sepasang glandula thyroidea, terletak di kanan kiri trachea.
Sepasang thymus, terletak di kanan kiri trachea tetapi lebih ke caudal daripada glandula thyroidea.
Pada yang dewasa glandula ini mengecil atau bahkan menghilang.
Sepasang glandula suprarenalis, pada hewan betina glandula ini terletak dekat medial ovarium. Pada yang jantan glandula ini menempel pada bagian medial epididymis.
Sepasang corpus adiposum, terletak tepat di cranial testis, berupa jaringan lemak yang menguning. (radiopoetro, 1996, hal.530)
Telur reptile sedikit lebih keras di bandingkan dengan amphibi. kuning telur lebih banyak di butuhkan untuk perkembangan embrio dan setelah menetas. Dan telurnya juga sering di selubungi oleh albumen dan lapisan pembungkus luar berupa cangkang kalkareus (Cangkang kapur). (Sukiya, 2005).

Alat-alat endokrin
Pada golongan kadal yang ovovivipar telah dijumpai adanya corpus luteum. Juga pada hoplodacylus sp. (kadal vivipar) dijumpai adanya progesteron dan homolognya pada periode progestasi. (radiopoetro, 1996,hal. 519)
Kelenjar paratiroid seringkali lebih kranial dari kelenjar tiroid dan tidak berpasangan. Kelenjar endokrin lain pada reptil tidak berbeda nyata dengan kebanyakan vertebrata tingkat tinggi (Sukiya, 2005 : 64). Terdapat Hubungan antara Sistem Saraf dan Endokrin, yaitu:
Hipofisis Posterior (jaringan saraf) menyimpan dan mensekresi hormon yang dibentuk oleh hipotalamus (jaringan saraf) ● Hipofisis Anterior (kelenjar endokrin) ● mensekresi hormon-bila mendapat Releasing Hormone(RH) dari hipotalamus ● berhenti mensekresi hormon-bila mendapat Inhibiting Hormone (IH) dari hipotalamus● Hipofisis anterior mengarahkan kelenjar hormon lainnya.

Tingkah laku kadal
Kadal betina terbukti lebih unggul dibanding kadal jantan. Mereka menentukan pasangan, memegang keputusan tentang di mana mereka akan tinggal, bahkan juga menentukan jenis kelamin anak. Semua siklus reproduksi dan perkawinan sangat tergantung oleh pihak betina. Ukuran tubuh betinanya hanya setengah dari kadal jantan. Namun mereka memiliki siklus reproduksi yang cukup unik. Bukan hanya menentukan pasangan dan tempat tinggal saja, kadal betina juga bebas berpasangan dengan lima atau enam kadal jantan sekaligus dalam sekali masa reproduksi. kadal betina mengumpulkan semua sperma dari pasangannya di dalam rongga perutnya yang bernama spermatesa. Ia juga bebas memilih sperma ini untuk menentukan jenis kelamin anak sesuai keinginannya. secara teori, mereka memilih sperma berdasarkan kromosom seks. Kepioniran kadal betina dibanding pejantannya ini masih merupakan teka-teki, sebab terbukti tubuh kadal betina lebih kecil dari pejantan.










BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah di uraikan di atas maka, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Adapun karakter umum dari reptil antara lain: Tubuh terdiri dari empat bagian yaitu : kepala, leher, badan dan ekor. mempunyai 2 kategori sisik, yaitu sisik epidermal dan dermal. Kulit kering, Jantung terdiri dari 4 ruang, dua atrium dan dua ventriculum, Mempunyai alat kopulasi, Telur dibungkus oleh lapisan cangkang. berdarah dingin (poikilothermus) dan alat kelamin jantan dan betina yang terpisah.


















DAFTAR PUSTAKA

Brotowijoyo. 1990. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga
Campbell, Neil. 1999. Biologi jilid 1. Jakarta: Erlangga
Cokrokusumo. 1983. Pengantar Vertebrata. Jakarta: Erlangga
Jasin,Maskoeri.1984.Sistematika Hewan Avertebrata Dan Vertebrata. Surabaya: Sinar wijaya
Kastawi, dkk. 1992. Vertebrata. Malang : IKIP
Kimball, john. 1991. Biologi edisi kelima jilid 3. Jakarta: Erlangga
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Jakarta: Erlangga
Soemarwoto, idjah dkk. 1992. Biologi Umum 1. Jakarta: PT.Gramedia pustaka Utama
Soemiadji. 1986. Biologi. Jakarta: Karunika
Sukiya. 2005. Biologi Vertebrata. Malang: UM Press
Villae, claude A. Dkk. 1984. Zoologi Umum. Jakarta: Erlangga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar